“BIRUL WALIDAIN”

Birul Walidain adalah berbakti kepada orang tua. Sudah merupakan kewajiban kita sebagai anak untuk melakukannya,tidak pandang siapa orang tua kita. Wajiblah kita berbakti kepada Ibu yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kita, mengandung selama sembilan bulan lamanya dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayangnya, kepada Ayah yang terus bekerja keras banting tulang mencari nafkah untuk kehidupan kita.
Birul Walidain juga merupakan rasa syukur kita terhadap Allah SWT.

Namun di sini ada sebuah kisah yang akan mengingatkan kita betapa tulusnya kasih sayang Ibu terhadap anaknya, dan dari kisah ini kita bisa merenungi diri kita sendiri. Sudahkah kita ber “Birul Walidain kepada orang tua kita?”

berikut kisahnya…

Ada seorang anak yang sangat pemberani. Ia termasuk seorang yang di senangi oleh kawan-kawannya. Baik hati, suka berbagi, setia kawan, itulah kesan teman-temannya terhadap anak tersebut. Namun sangat berbeda sekali prilakunya terhadap ibunya yang hanyalah seorang pembantu. Sikapnya sangat kasar bahkan menunjukkan bahwa dirinya tidak suka dan malu terhadap ibunya. Bukan hanya sekedar malu akan pekerjaan sang ibu, namun ia malu akan kondisi fisik ibu yang hanya memiliki satu mata, bayangkan ia malu terhadap ibu yang hanya memiliki “satu mata”..

Tetapi apa tanggapan sang ibu terhadap anaknya yang demikian itu..??

Ibu memanglah orang yang sangat sangat mulia, ia sangat mengasihi, menyayangi anak-anaknya tak peduli seperti apa ia. Dengan sikap anaknya yang seperti itu, ibunya tetap menyayanginya, tetap merawatnya dengan penuh kasih dan sayangnya. Setiap pagi menyiapkan sarapan untukkya, menyiapkan seragam sekolah yang akan dipakai oleh anaknya. Ia melakukannya dengan penuh cinta dan kasih saying yang tulus dari dasar hati sang ibu tanpa peduli sikap ketus dari anaknya tersebut. Jika anaknya mulai melangkahkan kakinya menuju sekolah, ibu selalu mengiringinya dengan doa yang tulus, kelak masa depan anaknya akan bahagia.

Sungguh mulia hati ibu terhadap anakkya, dan ia pun selalu sabar menghadapi sikap anaknya yang sangat tidak bertimbal balik sampai anaknya tumbuh dewasa dan akhirnya menikah.

Namun pernikahan tidaklah merubah sikap biadap anak tersebut, bahkan ia mengaku kepada istri dan keluarga istrinya bahwa ia adalah anak yatim piatu. Sungguh tidak berperasaan hati si anak. Ia tega mengucap dirinya adalah “yatim piatu” sedangkan, di rumahnya yang dulu sewaktu ia kecil menjadi tempat beristirahatnya dengan pelayanan yang sangat baik, terhampar sejuta harap dari sang ibu akan keselamatan dirinya yang sudah bertahun-tahun menghilangkan diri dari ibunya.

Sampai suatu hari ibu mendapatkan kabar tentang keberadaan anakknya. Dengan sangat bahagia ia pergi menyusuri jalan-jalan di kota yang sangat panas, padat, penat oleh polusi, kendaraan, dan orang-orang yang lalu lalang. Namun, semua itu tidaklah menjadi penghalang dirinya untuk bisa bertemu dengan pujaan hati yang telah lama ia rindu-rindukan.

Akhirnya ibu pun sampai ,

Di depan sebuah rumah yang sangat mewah, dengan pagar tinggi seperti istana, sungguh terharu hatinya melihat rumah anaknya yang ternyata telah sukses dan menjadi orang yang bahagia seperti apa yang selalu di harapkan dalam doanya. Ia pun tak sabar untuk bertemu dengan anak tercinta.

Dari pintu yang megah mulai keluarlah sesosok pria dengan tubuh yang tegap, tampan, berwibawa. Ibu pun sangat mengenalinya, tak terasa air matapun mulai meleleh di kedua kelopak pipi yang sudah berkerut. Sungguh bahagia hatinya melihat anaknya berada di depannya saat ini.

Namun sungguh sangat durhaka anak tersebut..

Ia mendorong tubuh sang ibu yang sudah sangat ranta sampai terjatuh…

Sampai terjatuhh…

Dengan lantangnya anak tersebut memaki-maki sang ibu, mengatainya dengan wanita bermata satu..

Ohh..sungguh sakit hati sang ibu mendengar semua itu. Namun ibu tetap bersabar, dengan air mata yang berlinangan karena kekecewaannya itu, ibu berkata

“wahai anakku, maafkanlah ibu jika dirimu tidak senang ibu berada di sini,

Baik anakku, ibu akan segera pergi,

Ibu hanya merindukan mu anakku,

Ibu senang melihat kondisimu saat ini, masih sehat, bahagia,

Ibu senang, sanggattt senganngg anakku..”

Tanpa tanggapan dari si anak, ibu pun pulang kembali kerumah kecil yang sangat penuh dengan kenangan tentang dirinya dan anaknya tercinta.

Tak beberapa lama setelah kejadian tersebut datanglah sepucuk surat ke rumah si anak. Ia pun mulai membacanya, dan ternyata surat tersebut adalah dari ibunya.

“Assalamualaikum anakku..

ibu berharap engkau baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Ibu hanya ingin memohon maaf atas sikap lancang ibu yang tiba-tiba muncul di halaman rumahmu.

Ibu tahu, engkau sangat tidak suka dengan ibu, engkau pasti malu jika sampai istri mu muncul dan melihat ibu dengan kondisi ibu yang sangat menjijikkan sekali..

yang engkau bilang wanita bermata satu..Ibu tidak apa-apa anakku, ibu tidak marah..

Ibu sangat senang sekali melihat mu lagi

Ibu senang mengetahui kondisi mu yang sudah bahagia.. itu yang sangat ibu harapkan di setiap doa-doa ibu untukmu..

maafkan ibu wahai anakku, jika selama ini engkau malu memiliki ibu seperti ibu ini, maafkan ibu jika selama ini ibu hanya bisa membuat beban untukmu.

Tapi sekarang, saat ini ibu lega..

Ibu sangat tidak bisa membayangkan jika waktu itu ibu tidak mendonorkan satu mata ibu untuk mu..

Ibu pasti akan sangat menyesal, ibu tidak mau engkau jadi bahan ledekkan teman-temanmu di sekolah maupun di rumah.

Anakku terimakasih telah merawat dan menjaga dengan baik mata itu, ibu benar-benar senang, ibu bangga padamu anakku. engkau telah manjadi anak yang sukses.

Ibu bangga padamu..
Salam, Ibu yang selalu menyayangimu.

http://muthiafahme.blogdetik.com/2010/06/22/birul-walidain-mutiara-hati-yang-tak-kan-pudar-oleh-debu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s